Isaac彬
26-07-01 19:30

🪷ekantavipaccanīkabhāvatoti rāgacaritādīnaṃ asubhādikammaṭṭhānassa ujuvipaccanīkatāya.
"Karena merupakan lawan yang secara langsung bertentangan (ekantavipaccanīkabhāvato)", yaitu karena objek meditasi seperti perenungan ketidakindahan (asubha) dan sebagainya merupakan lawan yang berhadapan secara langsung (ujuvipaccanīka) terhadap watak yang dikuasai oleh nafsu (rāgacarita) dan sebagainya.

atisappāyatoti saddhācaritādīnaṃ buddhānussatiādikammaṭṭhānassa atisappāyato.
"Karena sangat sesuai (atisappāyato)", yaitu karena objek meditasi seperti perenungan terhadap Buddha (buddhānussati) dan sebagainya sangat sesuai bagi mereka yang memiliki watak keyakinan (saddhācarita) dan sebagainya.

Evaṃ ujuvipaccanīkavasena, atisappāyavasena ca idaṃ sabbaṃ visuṃ visuṃ tesaṃ anukūlanti vuttaṃ, na pana itarassa ananukūlabhāvato.
Demikianlah, berdasarkan kenyataan bahwa ia merupakan lawan yang secara langsung bertentangan, dan berdasarkan kenyataan bahwa ia sangat sesuai, semua objek meditasi itu dikatakan masing-masing secara tersendiri cocok bagi watak-watak tersebut.
Namun, hal itu bukan berarti Objek Meditasi yang lain sama sekali tidak sesuai.

Na hi rāgādīnaṃ avikkhambhikā, saddhādīnaṃ vā anupakārikā kusalabhāvanā nāma atthi.
Sebab, tidak ada Meditasi (Kusala-bhāvanā) yang tidak mampu menekan (vikkhambhana) keserakahan dan kekotoran batin lainnya, ataupun yang tidak bermanfaat bagi watak (caritta) keyakinan dan watak-watak lainnya.

Tathā hi meghiyasutte –
“Cattāro dhammā uttari bhāvetabbā, asubhā bhāvetabbā rāgassa pahānāya, mettā bhāvetabbā byāpādassa pahānāya, ānāpānassati bhāvetabbā vitakkupacchedāya, aniccasaññā bhāvetabbā asmimānasamugghātāyā”ti (a· ni· 9.3; udā· 31) –
Ekasseva cattāro dhammā bhāvetabbāti vuttā.

Karena itulah, dalam Meghiya Sutta dikatakan:
"Empat Dhamma perlu dikembangkan lebih lanjut: perenungan ketidakindahan (Asubha) perlu dikembangkan untuk melenyapkan nafsu (rāga); cinta kasih (Mettā) perlu dikembangkan untuk melenyapkan kebencian (byāpāda); perhatian pada napas (Ānāpānassati) perlu dikembangkan untuk memotong pikiran yang mengembara (vitakka); persepsi tentang ketidakkekalan (Aniccasaññā) perlu dikembangkan untuk mencabut kesombongan 'aku' (asmimāna)."
(Aṅguttara Nikāya 9.3; Udāna 31)
Di sana dikatakan bahwa keempat dhamma itu perlu dikembangkan oleh satu orang yang sama.

Tathā rāhulovādasuttepi “Mettaṃ, rāhula, bhāvanaṃ bhāvehī”tiādinā (ma· ni· 2.120) satta kammaṭṭhānāni vuttāni, na cāyasmato meghiyassa cattāripi caritāni santi, nāpi rāhulattherassa sabbacaritāni, tasmā vacanamatte abhinivesaṃ akatvā sabbattha adhippāyo pariyesitabboti vuttaṃ hoti.
Demikian pula, dalam Rāhulovāda Sutta, melalui pernyataan yang dimulai dengan:
"Rāhula, kembangkanlah meditasi cinta kasih (Mettā-bhāvanā)."
dan seterusnya (Majjhima Nikāya 2.120),
disebutkan tujuh objek meditasi (kammaṭṭhāna).
Padahal, Yang Mulia Meghiya tidak memiliki keempat jenis watak (carita) itu sekaligus, demikian pula Yang Mulia Rāhula tidak memiliki seluruh jenis watak.

Oleh karena itu, maknanya adalah: jangan berpegang secara kaku pada bunyi kalimat semata, tetapi hendaknya mencari maksud yang sebenarnya (adhippāya) dalam setiap konteks.

(Abhidhammavatara-Purana-Tika)

发布于 广西