Buddho Aggo Pavuccati.
"Aggataṃ" berarti keadaan sebagai yang tertinggi (seṭṭhabhāva) di antara semua makhluk.
Di sini, kata agga digunakan dalam beberapa pengertian, yaitu:
- permulaan (ādi),
- ujung atau puncak (koṭi),
- bagian atau pembagian (koṭṭhāsa),
- yang tertinggi atau terbaik (seṭṭha).
Demikianlah penggunaannya.
Misalnya, dalam ungkapan:
"Ajjatagge pāṇupetaṃ saraṇaṃ gataṃ"
("Mulai hari ini hingga akhir hayat, aku berlindung..."),
kata agga berarti permulaan.
Dalam ungkapan:
"Teneva aṅgulaggena taṃ aṅgulaggaṃ parāmaseyya"
("Dengan ujung jari itu juga hendaknya ia menyentuh ujung jari tersebut."),
kata agga berarti ujung.
Dalam ungkapan:
"Anujānāmi, bhikkhave, vihāraggena vā pariveṇaggena vā bhājetuṃ."
("Wahai para bhikkhu, Aku mengizinkan pembagian berdasarkan bagian vihāra atau bagian pariveṇa."),
kata agga berarti bagian.
Sedangkan dalam ungkapan:
"Aggo hamasmi lokassa."
("Aku adalah yang tertinggi di dunia."),
kata agga berarti yang tertinggi.
Demikian pula, dalam konteks ini makna itulah yang hendaknya dipahami.
Disebut Agga karena Sang Buddha mencapai atau menjadi yang tertinggi di antara para dewa dan manusia.
Maksudnya, Beliau disebut yang tertinggi (seṭṭha) karena:
1. tidak ada yang menyamai-Nya (asadisaṭṭhena);
2. memiliki kualitas-kualitas luhur yang istimewa (guṇavisiṭṭhaṭṭhena);
3. tidak ada yang setara maupun lebih tinggi daripada-Nya (asamasamaṭṭhena).
Atau dapat pula dipahami bahwa Sang Bhagavā disebut sebagai yang tertinggi di dunia karena:
1. kemunculan-Nya sangat sulit terjadi;
2. keberadaan-Nya sebagai manusia merupakan sesuatu yang sungguh menakjubkan;
3. Beliau membawa manfaat dan kebahagiaan bagi banyak makhluk;
serta Beliau tiada duanya dan tiada tandingannya.
Sebagaimana dinyatakan dalam Aṅguttara Nikāya:
"Wahai para bhikkhu, sejauh terdapat makhluk, baik yang tidak berkaki, berkaki dua, berkaki empat, maupun berkaki banyak, Tathāgata dinyatakan sebagai yang tertinggi di antara mereka semua."
"Aggataṃ" berarti keadaan sebagai yang tertinggi (aggassa bhāvo).
Dalam kalimat tersebut, aggataṃ menjadi objek dari kata gataṃ.
Sedangkan gataṃ berarti telah mencapai, telah memperoleh, atau telah sampai kepada keadaan itu. Dengan kata lain, maknanya adalah telah mencapai keadaan sebagai yang tertinggi.
